Jika pada akhir waktu, rasa hati tidak aku ungkapkan, aku akan tetap berusaha membuatnya hidup dalam tulisan-tulisanku.

Tuesday, October 15, 2013

Surat yang Kesembilan

Rasa ini yang Berdoa


Selamat malam, embun yang mungkin masih bersandar di atas sana bersama bintang.

Selamat malam, bulan yang terkadang bosan bermain bersama langit malam.
Malam ini, aku akan kembali bercerita.


Baru saja aku melihat buku merah jambu itu, ada sekitar tiga halaman di dalamnya tentang kamu. Membacanya kembali dan aku diam.

Ternyata aku telah mencintaimu jauh dari waktu yang aku sadari saat ini.

Ternyata beberapa puisi yang aku tulis dengan judul “Yang Baru?” adalah benar aku tujukan untuk kamu.

Ternyata aku menulis semua hal tentang kamu, kebiasaan kamu, kesukaan kamu, kamu, dari yang terindah sampai yang terburuk.

Tersenyum dan aku malu.

Kenapa begitu tidak pekanya aku dengan rasa ini. Rasa yang diam-diam menempati seluruh ruang hati ini. Harusnya aku menghadang rasa atau bahkan menggalakkan diriku sejak awal. “Ini bukan rasa yang tepat untuk dia!” atau “Kamu bukan bagian dari orang-orang spesialnya!” atau bahkan “Harusnya kamu sadar bahwa kamu hanyalah kamu!”.

Maha Cinta telah membiarkan rasa ini mengarah kepadaku dan cinta telah menjadi bagian darinya.

Sesuatu yang pernah aku sesali adalah memiliki rasa ini, rasa yang harusnya tidak aku tujukan untukmu.


Aku menyayangimu, namun harusnya tidak dengan rasa ini.

Maaf...

Sekarang aku belajar untuk tidak pernah menyesali semua.

Aku belajar bagaimana jika rasa ini berhadapan dengan waktu, waktu dimana ada aku dan kamu.


Kamu, tolong jangan pernah takut atau bimbang.

Aku mengenal dalam rasa ini.

Ternyata dia tidak menuntut balas apapun dari kamu, dia hanya berusaha menuntun cintaku untuk menuju kamu dengan tulus tanpa ego memiliki.


Rasa ini menitip doa untukmu di setiap sujud. Entah mengapa, yang jelas rasa ini hanya meminta kepada-Nya agar aku masih bisa melihatmu tersenyum dan terjaga oleh-Nya. Dan meminta agar sesekali waktu bersama aku dan kamu sebelum jarak lagi-lagi berperan.

Mungkin, mengeja namamu di setiap doa adalah cara terbaikku untuk mencintaimu dalam diam.

Sekarang sesal tidak lagi bersamaku.

Bersama rasa ini, aku melihat diam ke arahmu, membisikkan cinta dan aku bahagia.


No comments:

Post a Comment