Jika pada akhir waktu, rasa hati tidak aku ungkapkan, aku akan tetap berusaha membuatnya hidup dalam tulisan-tulisanku.

Wednesday, March 12, 2014

Menulis Kesedihan dengan Senyuman

Kesedihan


Entah harus bahagia atau takut jika hidup beratus-ratus tahun lamanya. Aku memang merasakan bahagia tapi sedih juga sering menemani setiap harinya. Aku tidak terlalu paham dengan  dunia psikologi, sedih yang dirasakan itu murni dari faktor di luar diriku atau malah dari diri dan sugestiku sendiri. Sakit hati, bertengkar dengan ibu, berselisih paham dengan orang tua, masalah dengan sahabat, merasa tidak memiliki siapa-siapa, atau merasakan sakit. Siapa yang tidak akan sedih bila merasakannya? Namun aku percaya setiap orang memiliki detiknya masing-masing untuk bisa bahagia atau bersedih.


Siapa orang yang peling bersedih di dunia ini?
Mereka yang tidak bisa bersekolah dan tidak menikmati masa-masanya?
Mereka yang tidak bisa merasakan cukup setiap harinya?
Mereka yang tidak bisa lepas dari kemiskinan dan kekurangan?
Mereka yang hidup sebatang kara, sendiri, dan sepi?
Mereka yang mengidap kanker, menjalani kemoterapi, dan kehilangan rambut indahnya?
Mereka yang mengidap tumor ganas dan hidup dalam penderitaan?
Mereka yang buta dan tidak bisa melihat indahnya semesta?
Mereka yang tuli dan tidak bisa mendengar bunyi-bunyi semesta?
Mereka yang lumpuh dan tidak bisa berlari dan bermain sendiri?
Mereka yang tidak memiliki tangan dan tidak menulis sendiri kata-kata indahnya?


Beberapa detik membuatku sangat sedih,

Kehilangan seorang perempuan yang menjadi panutan hidupku, seseorang yang bisa menjadi ibu yang galak, seseorang yang bisa menjadi sahabat, seseorang yang bisa menjadi guru terbaikku, dan dia lah yang aku panggil dengan sebutan Iyi atau Mbah Yi. Di waktu kecil Iyi menyayangi cucu-cunya melebihi kasih sayang ke anak-anaknya. Beliau yang selalu mengingatkan aku untuk menjalani 5 waktu, yang meyakiniku bahwa aku akan mendapat ranking 3 besar sewaktu SD, yang mengajakku untuk menemaninya belanja, mengambil pensiunan, memarahiku jika telat pulang dan meninggalkan kewajibanku. Keberadaannya adalah hal yang paling indah, lebih dari memiliki pacar yang sangat baik sekalipun. Tuhan menyayanginya dan memilihnya lebih dulu untuk di atas sana, bersama suami tercintanya. Beliau memang pergi tapi aku selalu merasakan kehadirannya yang memelukku dengan kasih sayang seperti dulu.

Meninggalkan Jakarta dan mereka yang aku sayang. Keputusan yang terlalu cepat dan tidak berpikir panjang. Jauh dari sahabat dan seseorang yang spesial. Dia yang memberi segala yang baru dan indah, dia yang harus aku tinggalkan di kotanya, dan dia yang pada akhirnya harus aku relakan untuk menjalani hidupnya tanpa aku, aku sebagai seseorang yang di hatinya. Mereka memang terlalu indah untuk aku tinggalkan.

Di Yogyakarta ini, aku belajar dan aku bersyukur. Yogyakarta membuat keluarga kecilku ini semakin saling mengerti satu sama lain. Mengajari dan menyadariku bahwa mendapatkan indah harus melewati banyak rintangan. Mengenali beberapa orang yang memberikan banyak pengalaman dan pelajaran hidup. Menemukan banyak arti cinta dan mengajakku untuk menulis tentangnya, menghargai setiap detik di setiap detaknya, mendekatkan aku kepada Sang Penentu, dan pada akhirnya Yogyakarta lah yang membuatku mengenal lebih dekat dengan hidup, hidup yang sesungguhnya.


Kesedihan yang begitu sakit tidak akan betah menempati seseorang yang mengenal dekat apa arti hidup. Aku memiliki banyak harta di hidup ini berupa orang-orang yang begitu aku sayang, seperti Ibu, Bapak, Mama, Bapak Ais, semua om dan tante, Ais, Fira, Nanda, Nindi, sepupu lainnya, sahabat-sahabatku di Jakarta, Kak Rahma, sahabat-sahabatku di Jogja dan banyak lagi yang nggak bisa aku sebutin semua. Memiliki mereka yang begitu berharga, menonton film Surat Kecil untuk Tuhan, melihat berita remaja yang meninggal, memiliki salah satu sahabat SD yang lebih dulu dipeluk Tuhan, dan memutuskan pindah ke luar kota telah membuat aku sadar bahwa kesedihan sesungguhnya adalah ketika aku harus meninggalkan semua yang sangat berarti di hidupku.



Membiarkan kesedihan bersamamu tidak akan pernah membuatmu bersyukur atas anugerahNya di setiap hembusan nafas.

No comments:

Post a Comment